Jumat, 18 Januari 2008

Aku Beriman maka Aku Bertanya - Jeffrey Lang


Buku ini saya beli bulan agustus tahun lalu waktu pulang ke jawa, dan sampai saat ini belum juga selesai baca. Karena kesibukan harian yang menyita banyak waktu memang kadang sepertinya waktu 24 jam sehari sepertinya kurang. Yah... karena mungkin intelegensi yang terbatas, sebab waktu baca Harry Poter dari jilid 1 sampai jilid 6 perasaan bacanya nggak pernah putus. Dan herannya kok, semuanya bisa terekam. Tapi kalo baca buku ini harus dibaca berulang-ulang, dan seperti buku-buku non fiksi yang lain biasanya penulisnya memakai istilah-istilah akademis yang asing didengar orang awam. Dulu semasa kuliah biasanya dengan modal kopi dan rokok sebungkus udah bisa dengerin ocehan teman saya semalam suntuk bercerita tentang buku yang baru saja selesai dibacanya. Tentu dengan bahasa obrolan orang warung angkringan, tetapi rasanya kok malah lebih bisa diingat. Tetapi ada beberapa bagian dari buku ini yang menyederhanakan permasalahan dengan mengambil analogi-analogi yang sederhana dan saya yakin itu akan lebih banyak manfaatnya bagi kebanyakan pembaca daripada berkutat dengan bahasa-bahasa ilmiah yang bikin pusing bacanya, apalagi untuk mengingat ingatnya.
Ada sebuah analogi sederhana dari penulis buku ini dalam menerangkan hubungan antara manusia dengan Tuhan. "Dalam nama-nama yang persis terbentang didepanku inilah, aku melihat hubungan yang kucari selama ini. Nama-nama ini saling berjalin-kelidan, dan merupakan sebuah kesempurnan dari nilai-nilai kebajikan yang telah kucatat sebelumnya dan harus diamalkan manusia, lelaki dan perempuan. Implikasinya jelas: Lantaran Allah adalah kesempurnaan dari nilai-nilai kebajikan yang mesti kita praktikkan, semakin banyak mengamalkan nilai-nilai tersebut semakin besar kesangupan kita untuk mengalami kehadiran-Nya. Semakin banyak mendapat kasih-Nya, semakin besar kesanggupan kita untuk berenang di lautan kasih-Nya yang tak terbatas. Semakin menyayangi orang lain, semakin besar kesanggupan kita untuk berlabuh di pantai sayang-Nya. Semakin pandai kita memaafkan orang lain, semakin besar kesanggupan kita untuk mendapatkan samudra ampunan-Nya. Hal yang sama juga berlaku untuk nilai-nilai cinta, jujur, adil, ramah, dan seterusnya. Semakin kita hidup dengan nilai-nilai ini, semakin besar kesanggupan kita untuk menerima dan mengalami sifat-sifat Allah yang sempurna.
Ada sebuah analogi yang tepat. Aku dulu pernah mempunyai seekor ikan mas dan seekor anjing Jerman yang besar, dan sekarang aku memiliki tiga putri cantik. Ikan masku yang kecerdasan dan pertumbuhannya amat terbatashanya dapat mengetahui dan mengalami kasih sayangku dalam tingkat yang relatif rendah, betapapun aku bersikap dengan sangat baik padanya. Sementara
itu, anjingku sebagai binatang yang lebih cerdas dan kompleks daripada ikan dapat merasakan kehangatan dan kasih sayang manusia yang jauh lebih tinggi, dan karenanya dapat mengalami kasih sayang yang kutunjukkan padanya pada tingkat yang lebih tinggi.
Lain halnya, dengan putri-putriku yang telah dewasa mempunyai kemampuan untuk merasakan besarnya cinta dan kasih sayangku kepada mereka dalam tingkat yang tidak pernah dicapai oleh anjingku. Ini dikarenakan mereka mempunyai kesanggupan untuk secara langsung mengetahui, lewat perasaan dan hubungan mereka, perasaan-perasaan yang lebih dalam dan kaya. Analoginya, semakin tinggi tingkat kebaikan kita, semakin besarkesanggupan kita untuk mengalami dan merasakan kebaikan tuhan yang tak terhingga."
Briliant, begitulah menurutku tulisan atau sebuah gagasan yang hendak disebar luaskan pada khalayak umum yang beragam. Latar belakang penulis buku ini yang sebagai seorang dosen mungkin sudah terbiasa dengan bahasa-bahasa ilmiah dan penulisan makalah mungkin terbawa dalam gaya penulisannya.

3 komentar:

mattajogja mengatakan...

Hi..
Keep Upload
Best Regard.
Matt

dheaditya's mengatakan...

mas pedhett..
pinjammmm!!

ehehehehhe...

Firsty Relia Renata mengatakan...

How 'bout "Krakatau" and "Nusantara" nya?

Yow..., resensinya jg, donk....